Facebook bukan lagi barang baru bagi dunia pertemanan di dunia maya. Belum lagi BBM yang seketika membooming di Indonesia lantaran harga Blackberry yang turun dan merauk pasar smart ponsel. Belum berhenti disiitu Nexian juga hadir dengan messangernya. Rasanya memang tidak bisa dipungkiri era borderless communication sudah datang ke Indonesia. Tetapi apakah community yang “real” mati ? tentu saja tidak. Lihatlah para komunitas sepeda yang tetap dengan setia untuk memadatkan bundaran HI hingga monas. Atau komunitas para pejalana kaki dengan branding susu kalsium, tetap saja ramai di tiap-tiap kota. Fenomena ini yang saya angkat, bahwa era perebutan pasar community sudah dilakukan oleh sebagian besar perusahaan besar di Indonesia.
Lalu apa yang dilakukan para perusahaan tsb ? banyak. Ada yang sudah merintis dari beberapa tahun yang lalu ada juga yang baru mulai karena baru sadar bahwa era community menjadi sesuatu yang mutlak dalam beberapa tahun ini untuk dapat merebut dan mempertahakan market. Masing-masing perusahaan menggunakan strategi yang berbeda mulai dari pembangunan community, pengembangan community hingga mempertahankan community itu sendiri.
Pembangunan community ada yang dilakukan secara mendasar dengan menentukan arahnay tetapi ada juga yang menempel kepada community yang sudah berdiri dengan sedirinya. Ada plus minus dari keduanya. Ketika community dibangun secara mendasar, tentu saja akan menjadikan community ini akan lebih kuat dalam jangka panjang. Dalam artian community kecil yang Anda bangun 2 tahun silam, bisa jadi akan membuahkan hasil di tahun ini atau tahun depan. Tetapi ketika Anda hanya menempel ya buahnya akan Anda panen saat itu juga tetapi tidak menjamin akan berbuah terus dengan hasil yang maksimal. Tetapi yang harus dicermati disini bahwa keduanya membutuhkan penanganan yang serius dalam melakukan pemupukan sehingga proses pengembangan community menjadi sangat vital karena terkait hasil yang akan Anda capai.
Program yang tepat sasaran dan berkesinambungan akan membuat community yang Anda bangun akan bertahan dalam waktu yang lama dan mengembang dengan sendirinya sesuai dengan value yang diterima oleh anggota community itu sendiri. Saya tidak bilang bahwa value itu identik dengan nilai material yang harus Anda berikan saat itu, tetapi lebih kepada strategi memainkan layang-layang dalam kondisi angin tenang ataupun badai.
Saya pernah membangun community di perusahaan saya yang lama hanya dengan 10 orang pertama. 10 orang ini adalah hasil dari 50 orang yang saya undang untuk bergabung membangun community. Tetapi hasil seleksi alam hanya 1/5 yang berhasil berhasil saya pertahankan. Waktu itu saya tidak memberikan sesuatu dalam bentuk material. Mereka hanya saya kumpulkan setiap minggunya dan saya berikan informasi dan ilmu yang saya punya. Perlahan tetapi pasti dari 10 orang sekarang sudah menjadi lebih dari 30 orang. Tetapi apakah hasilnya hanya 30 orang ini saja ? tetantu saja tidak. 30 orang ini adalah batang utama dalam pohon. Sehingga pohon akan mempengaruhi komponen yang menempel di sekitarnya. Saya bisa dengan mudah menyelenggarakan event tanpa harus repot-repot bayar orang. Mereka dengan suka rela membantu dan saya hanya membutuhkan makan siang buat mereka. Saya tidak perlu capek-capek mencari peserta lomba, pengisi acara, bahkan untuk membuat acara heboh dengan penonton dan untuk mendatangkan orang untuk menonton. Bisa jadi ini bukanlah community yng besar tetapi saya hanya ingin memperlihatkan sebuah contoh kecil yang bisa Anda perluas sendiri dengan kemampuan Anda pribadi atau perusahaan Anda. Dan kalau boleh sedikit narsis atau apalah, saya bekerja ditempat yang baru justru dari yang community yang kecil itu.
Nah kembali lagi ke soal perebutan community itu sendiri. Banyak perusahaan yang sudah sadar dari dua atau tiga tahun yang lalu tetapi pertanyaannya apakah bagi mereka yang akan membangun pasar community ini akan tidak akan menghasilkan buah yang maksimal lantaran ketinggalan moment ? jawabannya bisa ya dan juga tidak. Semua tergantung bagaimana strategi yang Anda lakukan. Tetapi yang pasti yang dapat saya sampaikan bahwa community adalah real feeling dan community adalah value. Selama Anda bisa membangun “ real feeling” dan “ value” maka Anda sudah berhasil meraih pasar community itu. Selamat berjuang !