Apakah perusahaan Anda sudah memulai menyasar pasar community ? Tentu saja ini bukan hot issue, karena pasar community memang sudah menjad hal yang jamak. Tetapi masalahnya seringkali perusahaan membuang banyak energi untuk membangun communitynya dari awal dengan budget yang gila-gilaan. Apakah akan menghasilkan seperti yang diharapkan ? Kemudian apakah dengan mengekor atau menempel eksiting community akan juga membuat sukses membangun fondasi community yang diinginkan ?...
Tahun baru 2011 adalah tanda berakhirnya masa percobaan saya untuk resmi menjadi bagian dari perusahaan baru saya saat ini. Melompat ke perusaan dengan bidang yang sama ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Seperti halnya Anda ikut balapan F1 di lintasan yang baru. Mau tidak mau Anda harus memulai semuanya dari awal dan tidak ada garansi Anda akan sukses seperti di lintasan yang sering Anda lewati. Sehingga bisa jadi pengalaman dilintasan yang sebelumnya belum tentu berguna.
Saya masuk dan bertugas untuk membangun community untuk wilayah Jakarta, sungguh bukan perkara yang mudah bagi saya yang sudah meninggalkan kota ini lebih dari 3 tahun. Pengalaman sukses membangun community di kota lain, nyatanya tak memberi dampak besar untuk membangun fondasi saya untuk berfikir creatif bagaimana membangun community di Jakarta.
Awalnya saya berfikir untuk membangun semuanya dari basic. Personal touch, membangun media komunikasi, memperbanyak value added service. Tetapi rasanya energy saya tak cukup untuk menangani itu semua, sunguh effort yang sangat luar biasa. belum lagi kendala internal, ektrenal, membangun team. Sungguh waktu tak bisa berdamai dengan saya.
yup, ini sudah 3 bulan dan saya terus saja berfikir hingga berat badan saya otomatis mengikuti beban kepala saya, kurus tanpa harus repot diet dan fitnest. Hebat bukan ? Sering saya berbagi dengan mereka yang sukses membangun community di daerah. tetapi rasanya jawabanya adalah sama : " lain ladang, lain belalang ". Mereka sukses di daerah dengan apa yang sudah saya kerjaan 2 tahun yang lalu di kota diluar Jakarta. Sepertinya saya akan menjadi skinny lambat laun karena stress mencari formula yang tepat :)
Divisi pengembangan community ditempat saya juga tak kalah heboh. berbagai cara dilakukan. Mulai dengan budget yang besar-besaran dikucurkan untuk mensupport berbagai acara yang hanya meninggalkan community one night stand hingga mencoba strategy menempel eksisting community yang berharap community itu akan mengakui brand community perusahaan kami. Ah rasanya hanya seperti pungguk merindukan bulan bukan ? :( .
Akhirnya saya mulai berfikir, bahwa membangun community seharusnya berfikir kepada dasar manusia itu sendiri. Binggung ? ...sama, heheheh :). Begini, manusia adalah mahluk sosial. Tidak bisa hidup sendiri, walaupun terkadang memilih untuk sendiri. Tetapi toh mereka tetap saja membuka account facebook, menulis blog, mengupload di youtube dan masih banyak lagi yang dilakukan. Jadi pada dasarnya manusia membutuhkan manusia yang lain untuk sebuah eksitensi tanpa harus tahu atribut manusia lainnya ( nama, kenal atau tidak kenal, suka atau tidak suka, dll). Hal inilah yang membuat mereka akhirnya secara tidak langsung bercommunity. Apakah satu manusia cukup dengan satu community saja ? saya rasa tidak. Karena selingkuh akan lebih indah bukan ? hehehehhe. Nah disitulah kuncinya. Manusia akan memiliki lebih dari satu community. tidak akan ada yang setia dengan satu community saja. Sehingga bisa jadi semua member community perusahaan saya juga menjadi member community yang lain dan saya tidak bisa memaksa mereka untuk menjadi community perusahaan saya saja. So......saya pikir apabila saya ingin membuat besar community perusahaan saya, jalan yang mungkin saya tempauh adalah membangun "community bersama" yaitu membangun fondasi community dan secara paralel bekerjasama dengan community yang lain. Tentu saja dengan hubunga yang saling "memberi" dan saling " mengerti" seperti halnya Anda berteman bukan ?
Apakah akan berhasil ? wish me luck. karena ini bukan pekerjaan satu malam bukan ? :)
Saturday, 1 January 2011
Membangun Saluran Media Komunikasi Alternatif
Apa yang harus kita lakukan ketika biaya promo di media komunikasi semakin hari semakin tinggi, sedangkan budget perusahaan Anda berbanding terbalik ? Mungkin Anda harus mulai berfikir untuk membangun saluran media komunikasi produk Anda sendiri. Mengapa tidak ?
Hari ini saya mampir ke starbuck. Seperti biasa, hanya untuk sebuah alasan melepas kerinduan pada toko kopi yang harga kopinya cukup menguras kantong saya. Tapi apa boleh buat, toh saya adalah salah satu korban dari mereka yang awalnya membeli atas nama gensi atau harga diri dan pada akhirnya menjadi katagihan. Seperti konsumen Indonesia pada umumnya bukan ? :)
Membeli secangkir kopi yang lebih banyak susunya ketimbang kopi plus ditambah es adalah pilihan saya. Tapi lebih dari itu semua, saya harus mengoptimalkan toko kopi ini dengan membaca majalah gratisan dan memanfaatkan Wi-Fi sampai saya bosan, kalau perlu sampai toko tutup :)
Ada satu majalah baru yaitu NEXT. Awalnya saya pikir ini adalah majalah gratis fashion anak muda yang memang banyak sekali mucul dan tenggelam sendiri karena tak mampu lagi mempertahankan client - client yang menopang biaya produksi. Jadi yah lumayanlah saya pikir untuk mengupdate perkembangan anak muda sekarang ini. Setelah saya buka halaman ke tiga saya baru sadar bahwa ini adalah majalah keluaran Nexian. Yup, Seperti yang saya tulis di paling atas, bisa jadi ini adalah salah satu strategy nexian untuk memangkas biaya promo media yang cukup tinggi. Sehingga memproduksi free magazine akan jauh lebih ber"impact". Mungkin tidak hanya sekedar menekan biaya promo di saluran media yang ada. Tetapi lebih dari itu semua, saya melihat bahwa ini adalah salah satu cara untuk memasuki pasar anak muda. Apakah akan berhasil ? yang semua itu tergantung kepada banyak faktor : content, distribusi, konsistensi dan bagaimana membangun brand free magaazine itu sendiri.
Bila dilihat dari konsistensi, saya pikir Nexian cukup konsisten barangkali. karena majalah yang saya pegang adalah ediri ketiga. Secara konten mungkin sudah lumayan walaupun layoutnya masih jauh dari menarik bila dibandingkan dengan youth megazine pada umumnya, tetapi saya rasa masih bisa diperbaiki. Soal distribusi, saya tidak bisa berbicara banyak karena majalah ini baru saya temui di sini. Jadi saya rasa masih banyak PR yang harus dikerjakan oleh tim kreatif Nexian untuk menjadikan majalah NEXT ini menjadi sebuah alternatif saluran media komunikasi baru bagi NEXIAN sendiri. Good luck for Nexian.
Hari ini saya mampir ke starbuck. Seperti biasa, hanya untuk sebuah alasan melepas kerinduan pada toko kopi yang harga kopinya cukup menguras kantong saya. Tapi apa boleh buat, toh saya adalah salah satu korban dari mereka yang awalnya membeli atas nama gensi atau harga diri dan pada akhirnya menjadi katagihan. Seperti konsumen Indonesia pada umumnya bukan ? :)
Membeli secangkir kopi yang lebih banyak susunya ketimbang kopi plus ditambah es adalah pilihan saya. Tapi lebih dari itu semua, saya harus mengoptimalkan toko kopi ini dengan membaca majalah gratisan dan memanfaatkan Wi-Fi sampai saya bosan, kalau perlu sampai toko tutup :)
Ada satu majalah baru yaitu NEXT. Awalnya saya pikir ini adalah majalah gratis fashion anak muda yang memang banyak sekali mucul dan tenggelam sendiri karena tak mampu lagi mempertahankan client - client yang menopang biaya produksi. Jadi yah lumayanlah saya pikir untuk mengupdate perkembangan anak muda sekarang ini. Setelah saya buka halaman ke tiga saya baru sadar bahwa ini adalah majalah keluaran Nexian. Yup, Seperti yang saya tulis di paling atas, bisa jadi ini adalah salah satu strategy nexian untuk memangkas biaya promo media yang cukup tinggi. Sehingga memproduksi free magazine akan jauh lebih ber"impact". Mungkin tidak hanya sekedar menekan biaya promo di saluran media yang ada. Tetapi lebih dari itu semua, saya melihat bahwa ini adalah salah satu cara untuk memasuki pasar anak muda. Apakah akan berhasil ? yang semua itu tergantung kepada banyak faktor : content, distribusi, konsistensi dan bagaimana membangun brand free magaazine itu sendiri.
Bila dilihat dari konsistensi, saya pikir Nexian cukup konsisten barangkali. karena majalah yang saya pegang adalah ediri ketiga. Secara konten mungkin sudah lumayan walaupun layoutnya masih jauh dari menarik bila dibandingkan dengan youth megazine pada umumnya, tetapi saya rasa masih bisa diperbaiki. Soal distribusi, saya tidak bisa berbicara banyak karena majalah ini baru saya temui di sini. Jadi saya rasa masih banyak PR yang harus dikerjakan oleh tim kreatif Nexian untuk menjadikan majalah NEXT ini menjadi sebuah alternatif saluran media komunikasi baru bagi NEXIAN sendiri. Good luck for Nexian.
Subscribe to:
Posts (Atom)