Apakah perusahaan Anda sudah memulai menyasar pasar community ? Tentu saja ini bukan hot issue, karena pasar community memang sudah menjad hal yang jamak. Tetapi masalahnya seringkali perusahaan membuang banyak energi untuk membangun communitynya dari awal dengan budget yang gila-gilaan. Apakah akan menghasilkan seperti yang diharapkan ? Kemudian apakah dengan mengekor atau menempel eksiting community akan juga membuat sukses membangun fondasi community yang diinginkan ?...
Tahun baru 2011 adalah tanda berakhirnya masa percobaan saya untuk resmi menjadi bagian dari perusahaan baru saya saat ini. Melompat ke perusaan dengan bidang yang sama ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Seperti halnya Anda ikut balapan F1 di lintasan yang baru. Mau tidak mau Anda harus memulai semuanya dari awal dan tidak ada garansi Anda akan sukses seperti di lintasan yang sering Anda lewati. Sehingga bisa jadi pengalaman dilintasan yang sebelumnya belum tentu berguna.
Saya masuk dan bertugas untuk membangun community untuk wilayah Jakarta, sungguh bukan perkara yang mudah bagi saya yang sudah meninggalkan kota ini lebih dari 3 tahun. Pengalaman sukses membangun community di kota lain, nyatanya tak memberi dampak besar untuk membangun fondasi saya untuk berfikir creatif bagaimana membangun community di Jakarta.
Awalnya saya berfikir untuk membangun semuanya dari basic. Personal touch, membangun media komunikasi, memperbanyak value added service. Tetapi rasanya energy saya tak cukup untuk menangani itu semua, sunguh effort yang sangat luar biasa. belum lagi kendala internal, ektrenal, membangun team. Sungguh waktu tak bisa berdamai dengan saya.
yup, ini sudah 3 bulan dan saya terus saja berfikir hingga berat badan saya otomatis mengikuti beban kepala saya, kurus tanpa harus repot diet dan fitnest. Hebat bukan ? Sering saya berbagi dengan mereka yang sukses membangun community di daerah. tetapi rasanya jawabanya adalah sama : " lain ladang, lain belalang ". Mereka sukses di daerah dengan apa yang sudah saya kerjaan 2 tahun yang lalu di kota diluar Jakarta. Sepertinya saya akan menjadi skinny lambat laun karena stress mencari formula yang tepat :)
Divisi pengembangan community ditempat saya juga tak kalah heboh. berbagai cara dilakukan. Mulai dengan budget yang besar-besaran dikucurkan untuk mensupport berbagai acara yang hanya meninggalkan community one night stand hingga mencoba strategy menempel eksisting community yang berharap community itu akan mengakui brand community perusahaan kami. Ah rasanya hanya seperti pungguk merindukan bulan bukan ? :( .
Akhirnya saya mulai berfikir, bahwa membangun community seharusnya berfikir kepada dasar manusia itu sendiri. Binggung ? ...sama, heheheh :). Begini, manusia adalah mahluk sosial. Tidak bisa hidup sendiri, walaupun terkadang memilih untuk sendiri. Tetapi toh mereka tetap saja membuka account facebook, menulis blog, mengupload di youtube dan masih banyak lagi yang dilakukan. Jadi pada dasarnya manusia membutuhkan manusia yang lain untuk sebuah eksitensi tanpa harus tahu atribut manusia lainnya ( nama, kenal atau tidak kenal, suka atau tidak suka, dll). Hal inilah yang membuat mereka akhirnya secara tidak langsung bercommunity. Apakah satu manusia cukup dengan satu community saja ? saya rasa tidak. Karena selingkuh akan lebih indah bukan ? hehehehhe. Nah disitulah kuncinya. Manusia akan memiliki lebih dari satu community. tidak akan ada yang setia dengan satu community saja. Sehingga bisa jadi semua member community perusahaan saya juga menjadi member community yang lain dan saya tidak bisa memaksa mereka untuk menjadi community perusahaan saya saja. So......saya pikir apabila saya ingin membuat besar community perusahaan saya, jalan yang mungkin saya tempauh adalah membangun "community bersama" yaitu membangun fondasi community dan secara paralel bekerjasama dengan community yang lain. Tentu saja dengan hubunga yang saling "memberi" dan saling " mengerti" seperti halnya Anda berteman bukan ?
Apakah akan berhasil ? wish me luck. karena ini bukan pekerjaan satu malam bukan ? :)
omah obrol
rumah untuk kita ngobrol bareng.
Saturday, 1 January 2011
Membangun Saluran Media Komunikasi Alternatif
Apa yang harus kita lakukan ketika biaya promo di media komunikasi semakin hari semakin tinggi, sedangkan budget perusahaan Anda berbanding terbalik ? Mungkin Anda harus mulai berfikir untuk membangun saluran media komunikasi produk Anda sendiri. Mengapa tidak ?
Hari ini saya mampir ke starbuck. Seperti biasa, hanya untuk sebuah alasan melepas kerinduan pada toko kopi yang harga kopinya cukup menguras kantong saya. Tapi apa boleh buat, toh saya adalah salah satu korban dari mereka yang awalnya membeli atas nama gensi atau harga diri dan pada akhirnya menjadi katagihan. Seperti konsumen Indonesia pada umumnya bukan ? :)
Membeli secangkir kopi yang lebih banyak susunya ketimbang kopi plus ditambah es adalah pilihan saya. Tapi lebih dari itu semua, saya harus mengoptimalkan toko kopi ini dengan membaca majalah gratisan dan memanfaatkan Wi-Fi sampai saya bosan, kalau perlu sampai toko tutup :)
Ada satu majalah baru yaitu NEXT. Awalnya saya pikir ini adalah majalah gratis fashion anak muda yang memang banyak sekali mucul dan tenggelam sendiri karena tak mampu lagi mempertahankan client - client yang menopang biaya produksi. Jadi yah lumayanlah saya pikir untuk mengupdate perkembangan anak muda sekarang ini. Setelah saya buka halaman ke tiga saya baru sadar bahwa ini adalah majalah keluaran Nexian. Yup, Seperti yang saya tulis di paling atas, bisa jadi ini adalah salah satu strategy nexian untuk memangkas biaya promo media yang cukup tinggi. Sehingga memproduksi free magazine akan jauh lebih ber"impact". Mungkin tidak hanya sekedar menekan biaya promo di saluran media yang ada. Tetapi lebih dari itu semua, saya melihat bahwa ini adalah salah satu cara untuk memasuki pasar anak muda. Apakah akan berhasil ? yang semua itu tergantung kepada banyak faktor : content, distribusi, konsistensi dan bagaimana membangun brand free magaazine itu sendiri.
Bila dilihat dari konsistensi, saya pikir Nexian cukup konsisten barangkali. karena majalah yang saya pegang adalah ediri ketiga. Secara konten mungkin sudah lumayan walaupun layoutnya masih jauh dari menarik bila dibandingkan dengan youth megazine pada umumnya, tetapi saya rasa masih bisa diperbaiki. Soal distribusi, saya tidak bisa berbicara banyak karena majalah ini baru saya temui di sini. Jadi saya rasa masih banyak PR yang harus dikerjakan oleh tim kreatif Nexian untuk menjadikan majalah NEXT ini menjadi sebuah alternatif saluran media komunikasi baru bagi NEXIAN sendiri. Good luck for Nexian.
Hari ini saya mampir ke starbuck. Seperti biasa, hanya untuk sebuah alasan melepas kerinduan pada toko kopi yang harga kopinya cukup menguras kantong saya. Tapi apa boleh buat, toh saya adalah salah satu korban dari mereka yang awalnya membeli atas nama gensi atau harga diri dan pada akhirnya menjadi katagihan. Seperti konsumen Indonesia pada umumnya bukan ? :)
Membeli secangkir kopi yang lebih banyak susunya ketimbang kopi plus ditambah es adalah pilihan saya. Tapi lebih dari itu semua, saya harus mengoptimalkan toko kopi ini dengan membaca majalah gratisan dan memanfaatkan Wi-Fi sampai saya bosan, kalau perlu sampai toko tutup :)
Ada satu majalah baru yaitu NEXT. Awalnya saya pikir ini adalah majalah gratis fashion anak muda yang memang banyak sekali mucul dan tenggelam sendiri karena tak mampu lagi mempertahankan client - client yang menopang biaya produksi. Jadi yah lumayanlah saya pikir untuk mengupdate perkembangan anak muda sekarang ini. Setelah saya buka halaman ke tiga saya baru sadar bahwa ini adalah majalah keluaran Nexian. Yup, Seperti yang saya tulis di paling atas, bisa jadi ini adalah salah satu strategy nexian untuk memangkas biaya promo media yang cukup tinggi. Sehingga memproduksi free magazine akan jauh lebih ber"impact". Mungkin tidak hanya sekedar menekan biaya promo di saluran media yang ada. Tetapi lebih dari itu semua, saya melihat bahwa ini adalah salah satu cara untuk memasuki pasar anak muda. Apakah akan berhasil ? yang semua itu tergantung kepada banyak faktor : content, distribusi, konsistensi dan bagaimana membangun brand free magaazine itu sendiri.
Bila dilihat dari konsistensi, saya pikir Nexian cukup konsisten barangkali. karena majalah yang saya pegang adalah ediri ketiga. Secara konten mungkin sudah lumayan walaupun layoutnya masih jauh dari menarik bila dibandingkan dengan youth megazine pada umumnya, tetapi saya rasa masih bisa diperbaiki. Soal distribusi, saya tidak bisa berbicara banyak karena majalah ini baru saya temui di sini. Jadi saya rasa masih banyak PR yang harus dikerjakan oleh tim kreatif Nexian untuk menjadikan majalah NEXT ini menjadi sebuah alternatif saluran media komunikasi baru bagi NEXIAN sendiri. Good luck for Nexian.
Thursday, 18 November 2010
Ketika Pasar Community Menjadi Rebutan
Facebook bukan lagi barang baru bagi dunia pertemanan di dunia maya. Belum lagi BBM yang seketika membooming di Indonesia lantaran harga Blackberry yang turun dan merauk pasar smart ponsel. Belum berhenti disiitu Nexian juga hadir dengan messangernya. Rasanya memang tidak bisa dipungkiri era borderless communication sudah datang ke Indonesia. Tetapi apakah community yang “real” mati ? tentu saja tidak. Lihatlah para komunitas sepeda yang tetap dengan setia untuk memadatkan bundaran HI hingga monas. Atau komunitas para pejalana kaki dengan branding susu kalsium, tetap saja ramai di tiap-tiap kota. Fenomena ini yang saya angkat, bahwa era perebutan pasar community sudah dilakukan oleh sebagian besar perusahaan besar di Indonesia.
Lalu apa yang dilakukan para perusahaan tsb ? banyak. Ada yang sudah merintis dari beberapa tahun yang lalu ada juga yang baru mulai karena baru sadar bahwa era community menjadi sesuatu yang mutlak dalam beberapa tahun ini untuk dapat merebut dan mempertahakan market. Masing-masing perusahaan menggunakan strategi yang berbeda mulai dari pembangunan community, pengembangan community hingga mempertahankan community itu sendiri.
Pembangunan community ada yang dilakukan secara mendasar dengan menentukan arahnay tetapi ada juga yang menempel kepada community yang sudah berdiri dengan sedirinya. Ada plus minus dari keduanya. Ketika community dibangun secara mendasar, tentu saja akan menjadikan community ini akan lebih kuat dalam jangka panjang. Dalam artian community kecil yang Anda bangun 2 tahun silam, bisa jadi akan membuahkan hasil di tahun ini atau tahun depan. Tetapi ketika Anda hanya menempel ya buahnya akan Anda panen saat itu juga tetapi tidak menjamin akan berbuah terus dengan hasil yang maksimal. Tetapi yang harus dicermati disini bahwa keduanya membutuhkan penanganan yang serius dalam melakukan pemupukan sehingga proses pengembangan community menjadi sangat vital karena terkait hasil yang akan Anda capai.
Program yang tepat sasaran dan berkesinambungan akan membuat community yang Anda bangun akan bertahan dalam waktu yang lama dan mengembang dengan sendirinya sesuai dengan value yang diterima oleh anggota community itu sendiri. Saya tidak bilang bahwa value itu identik dengan nilai material yang harus Anda berikan saat itu, tetapi lebih kepada strategi memainkan layang-layang dalam kondisi angin tenang ataupun badai.
Saya pernah membangun community di perusahaan saya yang lama hanya dengan 10 orang pertama. 10 orang ini adalah hasil dari 50 orang yang saya undang untuk bergabung membangun community. Tetapi hasil seleksi alam hanya 1/5 yang berhasil berhasil saya pertahankan. Waktu itu saya tidak memberikan sesuatu dalam bentuk material. Mereka hanya saya kumpulkan setiap minggunya dan saya berikan informasi dan ilmu yang saya punya. Perlahan tetapi pasti dari 10 orang sekarang sudah menjadi lebih dari 30 orang. Tetapi apakah hasilnya hanya 30 orang ini saja ? tetantu saja tidak. 30 orang ini adalah batang utama dalam pohon. Sehingga pohon akan mempengaruhi komponen yang menempel di sekitarnya. Saya bisa dengan mudah menyelenggarakan event tanpa harus repot-repot bayar orang. Mereka dengan suka rela membantu dan saya hanya membutuhkan makan siang buat mereka. Saya tidak perlu capek-capek mencari peserta lomba, pengisi acara, bahkan untuk membuat acara heboh dengan penonton dan untuk mendatangkan orang untuk menonton. Bisa jadi ini bukanlah community yng besar tetapi saya hanya ingin memperlihatkan sebuah contoh kecil yang bisa Anda perluas sendiri dengan kemampuan Anda pribadi atau perusahaan Anda. Dan kalau boleh sedikit narsis atau apalah, saya bekerja ditempat yang baru justru dari yang community yang kecil itu.
Nah kembali lagi ke soal perebutan community itu sendiri. Banyak perusahaan yang sudah sadar dari dua atau tiga tahun yang lalu tetapi pertanyaannya apakah bagi mereka yang akan membangun pasar community ini akan tidak akan menghasilkan buah yang maksimal lantaran ketinggalan moment ? jawabannya bisa ya dan juga tidak. Semua tergantung bagaimana strategi yang Anda lakukan. Tetapi yang pasti yang dapat saya sampaikan bahwa community adalah real feeling dan community adalah value. Selama Anda bisa membangun “ real feeling” dan “ value” maka Anda sudah berhasil meraih pasar community itu. Selamat berjuang !
Lalu apa yang dilakukan para perusahaan tsb ? banyak. Ada yang sudah merintis dari beberapa tahun yang lalu ada juga yang baru mulai karena baru sadar bahwa era community menjadi sesuatu yang mutlak dalam beberapa tahun ini untuk dapat merebut dan mempertahakan market. Masing-masing perusahaan menggunakan strategi yang berbeda mulai dari pembangunan community, pengembangan community hingga mempertahankan community itu sendiri.
Pembangunan community ada yang dilakukan secara mendasar dengan menentukan arahnay tetapi ada juga yang menempel kepada community yang sudah berdiri dengan sedirinya. Ada plus minus dari keduanya. Ketika community dibangun secara mendasar, tentu saja akan menjadikan community ini akan lebih kuat dalam jangka panjang. Dalam artian community kecil yang Anda bangun 2 tahun silam, bisa jadi akan membuahkan hasil di tahun ini atau tahun depan. Tetapi ketika Anda hanya menempel ya buahnya akan Anda panen saat itu juga tetapi tidak menjamin akan berbuah terus dengan hasil yang maksimal. Tetapi yang harus dicermati disini bahwa keduanya membutuhkan penanganan yang serius dalam melakukan pemupukan sehingga proses pengembangan community menjadi sangat vital karena terkait hasil yang akan Anda capai.
Program yang tepat sasaran dan berkesinambungan akan membuat community yang Anda bangun akan bertahan dalam waktu yang lama dan mengembang dengan sendirinya sesuai dengan value yang diterima oleh anggota community itu sendiri. Saya tidak bilang bahwa value itu identik dengan nilai material yang harus Anda berikan saat itu, tetapi lebih kepada strategi memainkan layang-layang dalam kondisi angin tenang ataupun badai.
Saya pernah membangun community di perusahaan saya yang lama hanya dengan 10 orang pertama. 10 orang ini adalah hasil dari 50 orang yang saya undang untuk bergabung membangun community. Tetapi hasil seleksi alam hanya 1/5 yang berhasil berhasil saya pertahankan. Waktu itu saya tidak memberikan sesuatu dalam bentuk material. Mereka hanya saya kumpulkan setiap minggunya dan saya berikan informasi dan ilmu yang saya punya. Perlahan tetapi pasti dari 10 orang sekarang sudah menjadi lebih dari 30 orang. Tetapi apakah hasilnya hanya 30 orang ini saja ? tetantu saja tidak. 30 orang ini adalah batang utama dalam pohon. Sehingga pohon akan mempengaruhi komponen yang menempel di sekitarnya. Saya bisa dengan mudah menyelenggarakan event tanpa harus repot-repot bayar orang. Mereka dengan suka rela membantu dan saya hanya membutuhkan makan siang buat mereka. Saya tidak perlu capek-capek mencari peserta lomba, pengisi acara, bahkan untuk membuat acara heboh dengan penonton dan untuk mendatangkan orang untuk menonton. Bisa jadi ini bukanlah community yng besar tetapi saya hanya ingin memperlihatkan sebuah contoh kecil yang bisa Anda perluas sendiri dengan kemampuan Anda pribadi atau perusahaan Anda. Dan kalau boleh sedikit narsis atau apalah, saya bekerja ditempat yang baru justru dari yang community yang kecil itu.
Nah kembali lagi ke soal perebutan community itu sendiri. Banyak perusahaan yang sudah sadar dari dua atau tiga tahun yang lalu tetapi pertanyaannya apakah bagi mereka yang akan membangun pasar community ini akan tidak akan menghasilkan buah yang maksimal lantaran ketinggalan moment ? jawabannya bisa ya dan juga tidak. Semua tergantung bagaimana strategi yang Anda lakukan. Tetapi yang pasti yang dapat saya sampaikan bahwa community adalah real feeling dan community adalah value. Selama Anda bisa membangun “ real feeling” dan “ value” maka Anda sudah berhasil meraih pasar community itu. Selamat berjuang !
Monday, 4 January 2010
Now, The Color is Yours
judul diatas adalah strong wording sebuah print ad sebuah pena karya Jisun Park yang memungkinkan Anda untuk dapat memilih warna pena sesuai dengan yang Anda inginkan. Caranya sangat mudah ! Anda tinggal melakukan scanning terhadap warna yang anda inginkan dengan menekan tombol scan dan secara otomatis infra red dalam pena akan melakukan proses sensor sehingga tinta akan berubah seperti warna yang kita inginkan. Sungguh product yang revolusioner.

NOW, THE COLOR IS YOUR. Audience diajak untuk dapat memiliki warna yang mereka suka. sehingga dengan the color is your, pelanggan seolah-olah telah memiliki kebebasan yang hakiki untuk menentukan dan menciptakan warna yang mereka sukai.
Ketika Anda memutuskan untuk membuat sebuah print ad, maka otomatis Ada harus memikirkan dengan optimal kalimat yang tepat yang tidak hanya menggambarkan, menarik tetapi juga mempunyai sense of belonging untuk audiece. Sehingga kalimat yang panjang ataupun pendek sekalipun dapat memiliki power yang cukup untuk menarik energy audience menjadi powerful message di dalam kepala mereka.

NOW, THE COLOR IS YOUR. Audience diajak untuk dapat memiliki warna yang mereka suka. sehingga dengan the color is your, pelanggan seolah-olah telah memiliki kebebasan yang hakiki untuk menentukan dan menciptakan warna yang mereka sukai.
Ketika Anda memutuskan untuk membuat sebuah print ad, maka otomatis Ada harus memikirkan dengan optimal kalimat yang tepat yang tidak hanya menggambarkan, menarik tetapi juga mempunyai sense of belonging untuk audiece. Sehingga kalimat yang panjang ataupun pendek sekalipun dapat memiliki power yang cukup untuk menarik energy audience menjadi powerful message di dalam kepala mereka.
SAY IT LOUD !
Ketika media komunikasi begitu absurd saat ini. Maka segala bentuk daya dan upaya dikerahkan sedemikian rupa sehingga komunikasi itu " berbunyi". Dalam artian tidak hanya menyampaikan produk atau promo pada sekian detik tetapi juga bagaimana caranya pesan itu sampai dan menempel di otak sang penerima pesan. so, tidak salah bila komunikasi itu harus dengan cara SAY IT LOUD !
Lihat paper bag dibawah. Bagaimana menurut Anda ?
Lihat paper bag dibawah. Bagaimana menurut Anda ?
Friday, 28 August 2009
OPERATOR BEREBUT SEKOLAH
Dua hari ini harian media cetak lokal membahas pemasangan baligho di sekolah yang dianggap tidak sesuai dengan aturan. Baligho dipasang oleh operator dengan seijin sekolah dengan cara “barter” fasilitas atau kemudahan yg dapat dinikmati oleh penghuni sekolah. Saya tidak akan membahas apakah tindakan promosi ini benar atau tidak tetapi saya ingin melihat kompetisi serta market telekomunikasi di Indonesia dalam kacamata saya pribadi.
Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mempunyai operator telekomunikasi lebih dari 14 operator dan semuanya bersaing memperebutkan kue yang tidak begitu besar. Coba kita tilik China, negera yang begitu besar baik dari sisi jumlah penduduk dan luas wilayah hanya mempunyai 3 operator dibandingkan Indonesia yang jauh lebih kecil wilayahnya. Walaupun kita masih berasumsi bahwa market potensial di Indonesia maih besar karena banyak daerah-daerah yang belum terjangkau telekomunikasi, tetapi prosentasenya sangat kecil. Tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh operator untuk membangun sarana dan prasarananya. Belum lagi tariff yang kian hari kian murah membuat operator kembali ke selera asal alias bermain tinju di ring yang sama.
Saat sekarang ini, jarang kita melihat orang yang tidak memakai ponsel. Bahkan bisa dipastikan tiap orang pasti mempunyai lebih dari satu ponsel. Hal itu mengamarkan bahwa sebentar lagi market size akan berhenti pada titik jenuh. Sehingga mau tidak mau semua opearator mengharapkan market baru dari newbie custumer yang tidak lain adalah mereka yang usianya lebih muda, anak sekolah misalnya.
Sehingga bukan barang aneh jika saat ini hampir semua operator berebut sekolah sebagai potensial market yang harus digarap secara serius dan konsisten. Berbagai program komunitas diluncurkan untuk dapat menarik minat sekaligus mempertahankan produk untuk tetap digenggaman. Karena bukan hal baru lagi bahwa no ponsel adalah indentitas layaknya KTP. Ketika no itu sudah terlanjur mengudara, otomatis akan berat rasanya untuk berpidah kartu. Jadi sedini mungkin nomer posnel ini dapat menjadi identitas sang empunya sehingga bisa menjadi loyal customer bagi operator bersangkutan.
Jadi intinya masing-masing operator harus menerapkan integrated marketing untuk dapat meraih pasar terbesar dalam sekolah. Disamping itu pemerintah seharusnya juga mulai membuat pemetaan mengenai masa depan telekomunikasi Indonesia. Harus ada planning yang jelas dalam beberapa tahun kedepan sehingga baik operator dan masyarakat sebagai customer tetap dapat terus berjalan dan berkembang.
Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mempunyai operator telekomunikasi lebih dari 14 operator dan semuanya bersaing memperebutkan kue yang tidak begitu besar. Coba kita tilik China, negera yang begitu besar baik dari sisi jumlah penduduk dan luas wilayah hanya mempunyai 3 operator dibandingkan Indonesia yang jauh lebih kecil wilayahnya. Walaupun kita masih berasumsi bahwa market potensial di Indonesia maih besar karena banyak daerah-daerah yang belum terjangkau telekomunikasi, tetapi prosentasenya sangat kecil. Tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh operator untuk membangun sarana dan prasarananya. Belum lagi tariff yang kian hari kian murah membuat operator kembali ke selera asal alias bermain tinju di ring yang sama.
Saat sekarang ini, jarang kita melihat orang yang tidak memakai ponsel. Bahkan bisa dipastikan tiap orang pasti mempunyai lebih dari satu ponsel. Hal itu mengamarkan bahwa sebentar lagi market size akan berhenti pada titik jenuh. Sehingga mau tidak mau semua opearator mengharapkan market baru dari newbie custumer yang tidak lain adalah mereka yang usianya lebih muda, anak sekolah misalnya.
Sehingga bukan barang aneh jika saat ini hampir semua operator berebut sekolah sebagai potensial market yang harus digarap secara serius dan konsisten. Berbagai program komunitas diluncurkan untuk dapat menarik minat sekaligus mempertahankan produk untuk tetap digenggaman. Karena bukan hal baru lagi bahwa no ponsel adalah indentitas layaknya KTP. Ketika no itu sudah terlanjur mengudara, otomatis akan berat rasanya untuk berpidah kartu. Jadi sedini mungkin nomer posnel ini dapat menjadi identitas sang empunya sehingga bisa menjadi loyal customer bagi operator bersangkutan.
Jadi intinya masing-masing operator harus menerapkan integrated marketing untuk dapat meraih pasar terbesar dalam sekolah. Disamping itu pemerintah seharusnya juga mulai membuat pemetaan mengenai masa depan telekomunikasi Indonesia. Harus ada planning yang jelas dalam beberapa tahun kedepan sehingga baik operator dan masyarakat sebagai customer tetap dapat terus berjalan dan berkembang.
Sunday, 23 August 2009
Susu berteman Shampo ?
Anda sudah lihat TV commercial Frisian Flag atau biasa kita sebut susu bendera terbaru ?. Sedikit saya ilustrasikan : seorang anak lucu memakai kaca mata besar duduk dekat meja yang kemudian ada backsound dengan suara anak2 juga mengatakan sekarang ekonomi sedang sulit. Sehingga mengilutrasikan daya beli masyarakat terhadap susu semakin menurun. Kemudian anak itu melihat ke lemari dinding, disitu terdapat susu bendera dalam kemasan sachet dengan harga Rp1000. Sehingga sekarang beli susu tak mahala lagi, cukup 1000 perak saja.
Yang ingin saya obrolkan bukan mengenai iklannya yang cukup menarik. Tetapi bagaimana produsen susu bendera ini membawa produknya ke level yang sangat retail untuk menyentuh segment terbawah yang bisa jadi C & D. Hal ini bisa jadi mereka lakukan untuk mencari pasar baru yang sangat potensial yang selama ini belum digarap oleh susu yang lain. Disaat susu yang lain berlomba-lomba menawarkan kandungan gizi dalam susu, Frisian Flag hadir seperti memberikan solusi bagi ibu-ibu rumah tangga yang sulit untuk membeli susu karena mahal. Bisa jadi kini target market Frisian flag tidak lagi ibu-ibu rumah tangga tetapi sudah langsung ke end usernya yaitu anak-anak. Cukup dengan 1000 rupiah saja anak-anak akan langsung membeli susu tanpa harus meminta persetujuan ibunya. Sungguh ide yang cukup bagus. Tapi apakah hasilnya akan sebagus idenya? kembali lagi pada distribusi barang dan seberapa kuat product communication dapat memberikan impact terhadap penjualn. We’ll see.
Hal lain yang menggelitik saya adalah susu kini sudah dalam packaging sachet. Hal ini berarti susu tidak lagi dipajang dalam sudut lemari kaca/etalase tetapi sudah bersaing dengan shampoo menggantung pada dinding atau seutas tali di dalam warung. Hal yang kemudian harus diperhatikan adalah : product placement dan pencitraan. Bila berbicara placement mungkin ini kita kembalikan kepada kepintaran para distributor/sales untuk dapat bernego dengan pengecer agar dapat diberikan tempat setrategis mungkin sehingga bisa dengan cepat ditangkap oleh mata. Kemudian berbicara mengenai pencitraan apakah susu cair ini dapat dipandang “ layak konsumsi” apabila berada dalam kemasan sachet dan terlebih bila berdampingan dengan shampoo, lotion dll. Sukur-sukur dapat berdampingan dengan kopi sehingga dapat menjadi komoditas F&B sehingga paling tidak dapat lebih mudah bagi yang melihat untuk mencerna “ oh sekarang susu ada juga yang bentuk sachet ya ?”.
Terlepas dari itu semua, langkah yang diambil Frisian flag ini bisa menjadi gambaran bahwa dalam membangun sebuah market, pengembangan produk tetap harus dilakukan tetapi bagaimana produk ini akan bergerak sesuai target tanpa lari dari positioningnya. Itu menjadi PR yang besar.
Yang ingin saya obrolkan bukan mengenai iklannya yang cukup menarik. Tetapi bagaimana produsen susu bendera ini membawa produknya ke level yang sangat retail untuk menyentuh segment terbawah yang bisa jadi C & D. Hal ini bisa jadi mereka lakukan untuk mencari pasar baru yang sangat potensial yang selama ini belum digarap oleh susu yang lain. Disaat susu yang lain berlomba-lomba menawarkan kandungan gizi dalam susu, Frisian Flag hadir seperti memberikan solusi bagi ibu-ibu rumah tangga yang sulit untuk membeli susu karena mahal. Bisa jadi kini target market Frisian flag tidak lagi ibu-ibu rumah tangga tetapi sudah langsung ke end usernya yaitu anak-anak. Cukup dengan 1000 rupiah saja anak-anak akan langsung membeli susu tanpa harus meminta persetujuan ibunya. Sungguh ide yang cukup bagus. Tapi apakah hasilnya akan sebagus idenya? kembali lagi pada distribusi barang dan seberapa kuat product communication dapat memberikan impact terhadap penjualn. We’ll see.
Hal lain yang menggelitik saya adalah susu kini sudah dalam packaging sachet. Hal ini berarti susu tidak lagi dipajang dalam sudut lemari kaca/etalase tetapi sudah bersaing dengan shampoo menggantung pada dinding atau seutas tali di dalam warung. Hal yang kemudian harus diperhatikan adalah : product placement dan pencitraan. Bila berbicara placement mungkin ini kita kembalikan kepada kepintaran para distributor/sales untuk dapat bernego dengan pengecer agar dapat diberikan tempat setrategis mungkin sehingga bisa dengan cepat ditangkap oleh mata. Kemudian berbicara mengenai pencitraan apakah susu cair ini dapat dipandang “ layak konsumsi” apabila berada dalam kemasan sachet dan terlebih bila berdampingan dengan shampoo, lotion dll. Sukur-sukur dapat berdampingan dengan kopi sehingga dapat menjadi komoditas F&B sehingga paling tidak dapat lebih mudah bagi yang melihat untuk mencerna “ oh sekarang susu ada juga yang bentuk sachet ya ?”.
Terlepas dari itu semua, langkah yang diambil Frisian flag ini bisa menjadi gambaran bahwa dalam membangun sebuah market, pengembangan produk tetap harus dilakukan tetapi bagaimana produk ini akan bergerak sesuai target tanpa lari dari positioningnya. Itu menjadi PR yang besar.
Subscribe to:
Posts (Atom)