Anda sudah lihat TV commercial Frisian Flag atau biasa kita sebut susu bendera terbaru ?. Sedikit saya ilustrasikan : seorang anak lucu memakai kaca mata besar duduk dekat meja yang kemudian ada backsound dengan suara anak2 juga mengatakan sekarang ekonomi sedang sulit. Sehingga mengilutrasikan daya beli masyarakat terhadap susu semakin menurun. Kemudian anak itu melihat ke lemari dinding, disitu terdapat susu bendera dalam kemasan sachet dengan harga Rp1000. Sehingga sekarang beli susu tak mahala lagi, cukup 1000 perak saja.
Yang ingin saya obrolkan bukan mengenai iklannya yang cukup menarik. Tetapi bagaimana produsen susu bendera ini membawa produknya ke level yang sangat retail untuk menyentuh segment terbawah yang bisa jadi C & D. Hal ini bisa jadi mereka lakukan untuk mencari pasar baru yang sangat potensial yang selama ini belum digarap oleh susu yang lain. Disaat susu yang lain berlomba-lomba menawarkan kandungan gizi dalam susu, Frisian Flag hadir seperti memberikan solusi bagi ibu-ibu rumah tangga yang sulit untuk membeli susu karena mahal. Bisa jadi kini target market Frisian flag tidak lagi ibu-ibu rumah tangga tetapi sudah langsung ke end usernya yaitu anak-anak. Cukup dengan 1000 rupiah saja anak-anak akan langsung membeli susu tanpa harus meminta persetujuan ibunya. Sungguh ide yang cukup bagus. Tapi apakah hasilnya akan sebagus idenya? kembali lagi pada distribusi barang dan seberapa kuat product communication dapat memberikan impact terhadap penjualn. We’ll see.
Hal lain yang menggelitik saya adalah susu kini sudah dalam packaging sachet. Hal ini berarti susu tidak lagi dipajang dalam sudut lemari kaca/etalase tetapi sudah bersaing dengan shampoo menggantung pada dinding atau seutas tali di dalam warung. Hal yang kemudian harus diperhatikan adalah : product placement dan pencitraan. Bila berbicara placement mungkin ini kita kembalikan kepada kepintaran para distributor/sales untuk dapat bernego dengan pengecer agar dapat diberikan tempat setrategis mungkin sehingga bisa dengan cepat ditangkap oleh mata. Kemudian berbicara mengenai pencitraan apakah susu cair ini dapat dipandang “ layak konsumsi” apabila berada dalam kemasan sachet dan terlebih bila berdampingan dengan shampoo, lotion dll. Sukur-sukur dapat berdampingan dengan kopi sehingga dapat menjadi komoditas F&B sehingga paling tidak dapat lebih mudah bagi yang melihat untuk mencerna “ oh sekarang susu ada juga yang bentuk sachet ya ?”.
Terlepas dari itu semua, langkah yang diambil Frisian flag ini bisa menjadi gambaran bahwa dalam membangun sebuah market, pengembangan produk tetap harus dilakukan tetapi bagaimana produk ini akan bergerak sesuai target tanpa lari dari positioningnya. Itu menjadi PR yang besar.
No comments:
Post a Comment