Friday, 28 August 2009

OPERATOR BEREBUT SEKOLAH

Dua hari ini harian media cetak lokal membahas pemasangan baligho di sekolah yang dianggap tidak sesuai dengan aturan. Baligho dipasang oleh operator dengan seijin sekolah dengan cara “barter” fasilitas atau kemudahan yg dapat dinikmati oleh penghuni sekolah. Saya tidak akan membahas apakah tindakan promosi ini benar atau tidak tetapi saya ingin melihat kompetisi serta market telekomunikasi di Indonesia dalam kacamata saya pribadi.

Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mempunyai operator telekomunikasi lebih dari 14 operator dan semuanya bersaing memperebutkan kue yang tidak begitu besar. Coba kita tilik China, negera yang begitu besar baik dari sisi jumlah penduduk dan luas wilayah hanya mempunyai 3 operator dibandingkan Indonesia yang jauh lebih kecil wilayahnya. Walaupun kita masih berasumsi bahwa market potensial di Indonesia maih besar karena banyak daerah-daerah yang belum terjangkau telekomunikasi, tetapi prosentasenya sangat kecil. Tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh operator untuk membangun sarana dan prasarananya. Belum lagi tariff yang kian hari kian murah membuat operator kembali ke selera asal alias bermain tinju di ring yang sama.

Saat sekarang ini, jarang kita melihat orang yang tidak memakai ponsel. Bahkan bisa dipastikan tiap orang pasti mempunyai lebih dari satu ponsel. Hal itu mengamarkan bahwa sebentar lagi market size akan berhenti pada titik jenuh. Sehingga mau tidak mau semua opearator mengharapkan market baru dari newbie custumer yang tidak lain adalah mereka yang usianya lebih muda, anak sekolah misalnya.

Sehingga bukan barang aneh jika saat ini hampir semua operator berebut sekolah sebagai potensial market yang harus digarap secara serius dan konsisten. Berbagai program komunitas diluncurkan untuk dapat menarik minat sekaligus mempertahankan produk untuk tetap digenggaman. Karena bukan hal baru lagi bahwa no ponsel adalah indentitas layaknya KTP. Ketika no itu sudah terlanjur mengudara, otomatis akan berat rasanya untuk berpidah kartu. Jadi sedini mungkin nomer posnel ini dapat menjadi identitas sang empunya sehingga bisa menjadi loyal customer bagi operator bersangkutan.

Jadi intinya masing-masing operator harus menerapkan integrated marketing untuk dapat meraih pasar terbesar dalam sekolah. Disamping itu pemerintah seharusnya juga mulai membuat pemetaan mengenai masa depan telekomunikasi Indonesia. Harus ada planning yang jelas dalam beberapa tahun kedepan sehingga baik operator dan masyarakat sebagai customer tetap dapat terus berjalan dan berkembang.

Sunday, 23 August 2009

Susu berteman Shampo ?

Anda sudah lihat TV commercial Frisian Flag atau biasa kita sebut susu bendera terbaru ?. Sedikit saya ilustrasikan : seorang anak lucu memakai kaca mata besar duduk dekat meja yang kemudian ada backsound dengan suara anak2 juga mengatakan sekarang ekonomi sedang sulit. Sehingga mengilutrasikan daya beli masyarakat terhadap susu semakin menurun. Kemudian anak itu melihat ke lemari dinding, disitu terdapat susu bendera dalam kemasan sachet dengan harga Rp1000. Sehingga sekarang beli susu tak mahala lagi, cukup 1000 perak saja.

Yang ingin saya obrolkan bukan mengenai iklannya yang cukup menarik. Tetapi bagaimana produsen susu bendera ini membawa produknya ke level yang sangat retail untuk menyentuh segment terbawah yang bisa jadi C & D. Hal ini bisa jadi mereka lakukan untuk mencari pasar baru yang sangat potensial yang selama ini belum digarap oleh susu yang lain. Disaat susu yang lain berlomba-lomba menawarkan kandungan gizi dalam susu, Frisian Flag hadir seperti memberikan solusi bagi ibu-ibu rumah tangga yang sulit untuk membeli susu karena mahal. Bisa jadi kini target market Frisian flag tidak lagi ibu-ibu rumah tangga tetapi sudah langsung ke end usernya yaitu anak-anak. Cukup dengan 1000 rupiah saja anak-anak akan langsung membeli susu tanpa harus meminta persetujuan ibunya. Sungguh ide yang cukup bagus. Tapi apakah hasilnya akan sebagus idenya? kembali lagi pada distribusi barang dan seberapa kuat product communication dapat memberikan impact terhadap penjualn. We’ll see.

Hal lain yang menggelitik saya adalah susu kini sudah dalam packaging sachet. Hal ini berarti susu tidak lagi dipajang dalam sudut lemari kaca/etalase tetapi sudah bersaing dengan shampoo menggantung pada dinding atau seutas tali di dalam warung. Hal yang kemudian harus diperhatikan adalah : product placement dan pencitraan. Bila berbicara placement mungkin ini kita kembalikan kepada kepintaran para distributor/sales untuk dapat bernego dengan pengecer agar dapat diberikan tempat setrategis mungkin sehingga bisa dengan cepat ditangkap oleh mata. Kemudian berbicara mengenai pencitraan apakah susu cair ini dapat dipandang “ layak konsumsi” apabila berada dalam kemasan sachet dan terlebih bila berdampingan dengan shampoo, lotion dll. Sukur-sukur dapat berdampingan dengan kopi sehingga dapat menjadi komoditas F&B sehingga paling tidak dapat lebih mudah bagi yang melihat untuk mencerna “ oh sekarang susu ada juga yang bentuk sachet ya ?”.

Terlepas dari itu semua, langkah yang diambil Frisian flag ini bisa menjadi gambaran bahwa dalam membangun sebuah market, pengembangan produk tetap harus dilakukan tetapi bagaimana produk ini akan bergerak sesuai target tanpa lari dari positioningnya. Itu menjadi PR yang besar.

Omah Obrol

Mari berbicara tentang sesuatu. Sesuatu yang barangkali teramat mudah untuk diobrolkan atau bisa jadi tak semestinya untuk diobrolkan, cukup untuk dirasakan saja. Itu semua sah-sah saja. Dalam Omah ( rumah) saya ini, saya ingin berbagi obrolan ringan seputar ap yang saya lihat dan saya nilai dengan sudut padang saya. Jadi apabila ada hal-hal yang kurang berkenan saya mohon maaf dan tidak ada salahnya kita saling obrol untuk mengasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi saya, Anda dan mereka yang sempat mampir di Omah Obrol.

Matur suwun.